Susahnya Mengenali Diri Sendiri

Pertanyaan tentang ‘Aku, siapakah dan bagaimana Aku’ sepertinya memang jadi salah satu pertanyaan yang paling menarik. Banyak orang ‘memburu jati diri’ dengan mencari tahu karakternya berdasarkan zodiac, shio, garis tangan, tulisan tangan, bentuk muka dan lain-lain.

Banyak di antara kita yang merasa mengenali orang lain, dan kemudian bahkan sampai ‘memberi cap’. Tapi belum tentu sungguh bisa mengenali diri sendiri. Banyak yang masih merasa asing dengan dirinya sendiri.

Selama terlibat dalam proses rekrutmen SDM di perusahaan dimana saya berkarya, bisa dibilang 11 dari 10 orang tidak cukup mengenali diri sendiri. Kok bisa 11? Iya, 10 kandidat yang diwawancarai dan satu lagi, yaitu pewawancaranya sendiri. Hehehe..

Saya rasa ini salah satu problem terbesar SDM di Indonesia, orang-orang yang tidak cukup mengenali diri sendiri. Jika kita tidak sungguh mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa mengembangkan potensi kita sesungguhnya? Bagaimana kita tahu jika kita sudah di ‘jalur yang benar’ saat ini?

Saya beruntung, menjelang kelulusan SMA, ayah saya mengikutkan saya tes IQ dan minat serta bakat yg diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UGM. Sayangnya, hasilnya hanya dikomunikasikan ke orang tua saya.

Selepas kuliah, saya masih terus akrab dengan tes psikologi dan atau kompetensi. Saya sendiri kemudian juga mempelajari dan menerapkan DISC dan graphologi untuk membantu saya dalam mengenali orang lain: calon karyawan dan anggota tim.

Itu sangat membantu saya untuk memahami apakah karakternya sesuai dengan tugas tanggung jawabnya. Selain itu, saya juga dapat pemahaman pendekatan seperti apa yang paling efektif untuk membangun komunikasi sekaligus mengembangkan potensi yang bersangkutan.

Seringkali dalam proses itu, pemahaman saya terhadap orang lain menjadi sangat berbeda. Ada yang semula saya pikir orangnya begini, tapi ternyata begitu. Engga heran banyak orang yang tidak bahagia.

Apakah kita sudah merasa bahagia? Sudah merasa pada jalur yang benar? Sudah berkembang berangkat dari potensi yg sesungguhnya?

Jika belum, besar kemungkinan karena kita belum mengenali diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s