Pengangguran karena Penyimpangan

Barusan baca berita tentang ancaman pengangguran pada generasi milenial. Disebutkan jika salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara keahlian yang ditekuni mahasiswa saat kuliah dengan kebutuhan dunia kerja.

Sudah lebih dari 20 tahun sejak saya pertama kali mendengar soal kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Artinya, masalah yang dihadapi oleh generasi milenial saat ini, bukan lagi masalah baru. Sayangnya memang tidak ada perubahan yang mendasar, dari sisi model pendidikan dan atau kurikulum untuk mengurangi kesenjangan itu.

Bicara model pendidikan, saya menyukai model pendidikan di sebuah sekolah bisnis dimana saya pernah belajar pengembangan manajemen. Selain bicara teori, kita juga sangat banyak bicara kasus. Tidak kalah pentingnya, kita juga mesti magang di perusahaan yang bergerak di industri yang samasekali berbeda dengan industri yang sedang dijalani.

Benar-benar memberikan pemahaman yang mendalam dan bekal yang berarti. Pendidikan di perguruan tinggi mengadopsi model yang lebih berorientasi pada kesiapan mahasiswa untuk terjun di dunia kerja.

Sementara cukup banyak yang beranggapan jika perguruan tinggi hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk mampu berpikir, menganalisa dan memecahkan masalah. Padahal, itu saja sudah bagian terbesar yang dibutuhkan perusahaan dari karyawan atau calon karyawannya.

Jadi pertanyaannya, sejauh mana Perguruan Tinggi sudah fokus untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menganalisa dan problem solving? Jika untuk itu saja belum maksimal, ya mahasiswa makin jauh dari siap.

Mestinya juga, perguruan tinggi tidak berhenti pada mengembangkan kemampuan itu. Memberikan pengalaman empiris juga tidak kalah pentingnya bagi perguruan tinggi. Dan pengalaman empiris itu bisa diperoleh melalui magang. Tentunya dengan berbagai catatan, tapi saya yakin itu sebenarnya juga bisa diakomodasi oleh perguruan tinggi.

Apalagi jika mempertimbangkan biaya kuliah yang relatif mahal. Apa gunanya bayar mahal jika hanya sekitar 20-30% pendidikan, atau bahkan kurang, yang bisa diaplikasikan selepas lulus kuliah? Bisa jadi, biaya kuliah mestinya hanya sebesar 20-30% dari biaya saat ini, sesuai dengan kapasitas yang terpakai.

Belum lagi,  jika bicara kesesuaian minat dan bakat mahasiswa dengan jurusan yang dipilihnya. Kalau tidak salah, lebih dari 70% mahasiswa ‘salah’ ambil jurusan. Orang tua turut ambil bagian dalam permasalahan ini. Mereka tidak cukup mengenali minat dan potensi anak-anaknya dan tidak cukup membantu mengarahkan untuk berkembang sesuai minat dan potensinya.

Jelas, kesenjangan makin lebar karena dari awal sudah menyimpang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s