Demam Akik dan Perang Harga

Kali ini saya mau ngobrolin tentang batu akik dan fotografi, dua hal yang sangat saya gemari. Tapi rasanya, kita bisa mendapatkan esensi yang sama dalam berbagai bidang selain dua hal itu.

Memanfaatkan momen demam batu, saya mulai melepaskan batu-batu mulia yang jadi koleksi saya sejak lebih dari 15 tahun lalu. Buseet! Batu-batu saya kejual dengan harga yang melampaui bayangan saya. Kaya dadakan nih ceritanya. Siapa yang mengira batu-batu mulia yang dulu saya dapatkan dengan harga yang relatif murah, bahkan banyak diantaranya gratis, bisa terjual dengan harga berlipat-lipat. Sekedar keberuntungan kali ya.

Tapi ternyata, beberapa rekan yang memang focus berjualan batu akik tidak mengalami hal yang sama. Demam akik mendorong semakin banyak orang yang berjualan batu akik. Akibatnya? Belakangan ini kita bisa mendapatkan batu akik dengan kualitas yang baik dengan harga yang lebih murah ketimbang sebelumnya.

Perang harga telah dimulai. Para pedagang akik mulai menurunkan harga koleksinya menjadi lebih murah. Banyak diantara mereka yang mulai mengeluhkan perang harga itu. Ironinya, mereka yang mengeluhkan harga adalah juga orang yang juga pasang harga “murah” pada batu-batu koleksinya.

Kita tunggu 6 bulan lagi. Harga batu-batu akik sepertinya akan jauh lebih turun lagi ketimbang sekarang. Namun pada saat itu terjadi, ketersediaan batu-batu mulia yang berkualitas rasanya juga tidak akan sebanyak saat ini, seiring berkurangnya “pemain” batu akik karena berkurangnya permintaan dan juga harga yang tidak lagi “sebagus” belakangan ini.

Saya jadi ingat dengan diskusi di kalangan fotografer profesional dan komersial.

“Pekerjaan engga seramai dulu””, “perang harga” dan “pemain baru yang merusak harga” adalah topik yang sering muncul jika mereka mulai mendiskusikan industri fotografi komersial.

Obrolannya fotografer professional jadi tidak jauh berbeda dengan obrolannya pedagang batu akik. Hehehe. Faktanya toh, masih ada studio fotografi komersial yang masih padat kegiatan produksinya tanpa ikut-ikutan perang harga.

Ada satu kesamaan antara industry batu akik dengan fotografi komersial, yaitu hambatan yang relatif rendah untuk memasuki “kancah kompetisi” atau kalau tidak salah istilah lainnya adalah low entry barrier. Pemain baru relatif mudah untuk memasuki industry dan meningkatkan persaingan.

Kita semua tahu, perkembangan teknologi saat ini dan juga peralatan dan perlengkapan yang semakin ekonomis harganya sungguh mempermudah orang untuk mampu melakukan (untuk tidak mengatakan menguasai) kegiatan fotografi dan kemudian “menjajakan” kemampuan tersebut.

Jangan lupakan juga, peruntukan fotografi komersial salah satunya untuk materi komunikasi visual periklanan. Dalam kancah kompetisi yang lebih luas, komunikasi visual fotografi sendiri telah lama bersaing dengan komunikasi audio visual. Kita semua juga sudah tahu, semakin banyak papan iklan yang tidak lagi menayangkan gambar diam melainkan gambar bergerak dan bersuara.

Meributkan pemain baru yang merusak harga tentu saja hanya membuat si “tukang ribut” itu tidak sungguh-sungguh memahami kancah kompetisi yang dia hadapi. Itu seperti dua orang pengendara motor yang bertikai di pinggir Jalan Raya Plumpang, Jakarta Utara, yang sering dilewati truk-truk besar dan memakan korban jiwa pengendara motor yang lengah, lalai atau ceroboh.

Dalam hal inilah, saya memandang sangat penting bagi para fotografer professional ataupun para “calon” fotografer professional untuk bisa mencermati lebih luas kondisi yang mereka hadapi. Mereka yang unggul adalah mereka yang memiliki pemahaman yang baik akan diri sendiri dan lingkungan.

Michael Porter, seorang pakar strategi manajemen, menyebutkan untuk menciptakan keunggulan ada lima hal yang harus diperhatikan, yang kemudian dikenal dengan Five Forces of Porter: (1) Ancaman Pendatang Baru, (2) Daya tawar terhadap supplier, (3) Daya tawar terhadap pembeli, (4) Kompetitor yang sudah ada dalam industry dan (5) Ancaman produk/jasa substitusi. Apakah ada produk/jasa yang bisa menggantikan fotografi? Produk audio visual misalnya?

Pengen tahu lebih banyak soal Five Forces of Porter? Jika kita sungguh-sungguh ingin tahu, tentunya kita akan mencari tahu dengan segala cara, untuk kemudian mengaitkannya dengan bagaimana kita menjalankan jasa fotografi komersial kita. Saya hanya melempar umpan. Begini saja sudah panjang kali lebar. Hehehe.

Pada akhirnya, harga bukanlah hal pertama yang harus kita kuatirkan, melainkan sejauh mana sih kita “fit in” dalam bidang yang sedang kita jalani, dan sejauh mana prospek bisnis kita. Dan ingat! Harga hanyalah satu diantara banyak nilai yang bisa kita mainkan. Jangan kaget jika kita hanya meributkan satu aspek saja dan mendadak kita sudah keluar dari permainan. Mending jualan akik saja.

Jakarta, 30 Mei 2015

Do What You Like & You’ll be GREAT at It

Ketika pertama kali resmi memasuki dunia kerja tahun 2001 lalu, aku tidak pernah membayangkan seperti apa akan jadinya perjalanan hidupku. Hidup hari demi hari, demikianlah singkatnya. Segera mencari kerja, apapun pekerjaannya, adalah hal pertama yang terlintas di benakku ketika resmi menyandang status sebagai Sarjana Ilmu Politik, alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Majalah FOTOMEDIA, terbitan Kompas Gramedia, adalah pijakan pertamaku. Bergabung sebagai Account Executive di mid 2001, aku lumayan menikmati pekerjaan awalku ini, terutama sekali karena berkaitan dengan fotografi yang menjadi salah satu minat terbesarku. Ini adalah posisi dimana aku berjumpa dengan tokoh-tokoh fotografi, dan juga para pimpinan perusahaan yang bergerak di industri fototografi. Aku berkesempatan untuk mengikuti dari dekat perkembangan fotografi, sekaligus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilanku di sana. Relasi yang aku dapatkan di FOTOMEDIA-pun juga berkembang. Aku masih menjalin komunikasi dengan beberapa tokoh senior fotografi hingga kini, 12 tahun setelah aku meninggalkan majalah itu.

Majalah FOTOMEDIA adalah tempat aku merasakan kegagalan pertama kali di dunia kerja. Kecintaanku pada fotografi dan antusiasmeku berjumpa dengan orang-orang yang bergelut di dunia fotografi tidak cukup mendorong penjualan iklan yang menjadi tanggung jawab utamaku sekaligus tolak ukur keberhasilanku. Akibat kegagalanku, aku hanya bisa bertahan selama 1 tahun hingga pertengahan tahun 2002. Waktu itu aku hanya beranggapan, permasalah utama pada penjualan eksemplar yang relatif rendah yang mengakibatkan efektivitas majalah FOTOMEDIA sebagai media promosi juga relatif rendah.

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku mulai mendalami pengelolaan bisnis dan mengevaluasi kegagalan pertamaku itu, aku mendapati banyak faktor selain oplah yang rendah yang juga mengakibatkan kegagalanku dalam penjualan iklan FOTOMEDIA. Beberapa di antaranya adalah, aku tidak cukup mengidentifikasi demografi dan psikografi pembaca FOTOMEDIA sekaligus mengedepankan potensinya bagi perusahaan-perusahaan yang menyasar pada pasar yang sama. Sisi lain, aku juga tidak menggali lebih dalam kebutuhan para pengiklan untuk kemudian menemukan bagaimana kami, majalah FOTOMEDIA, dapat memenuhi kebutuhan para pengiklan tersebut.

Selain itu, aku juga tidak cukup mengembangkan paket-paket penawaran yang menarik disamping penawaran-penawaran yang terlalu standard. Abai bahwa setiap pengiklan punya kebutuhan khusus yang tidak terpenuhi oleh paket-paket “template”. Aku juga hanya fokus pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri fotografi, dan baru pada 2-3 bulan terakhir di masa tugasku, aku mulai menggarap perusahaan-perusahaan yang menyasar pada segmen pembaca kami.

Sungguh, satu tahun yang sangat berwarna dan memberikan banyak pembelajaran.

Lepas dari Majalah FOTOMEDIA, aku langsung pindah ke Radio Sonora, yang juga masih berinduk pada Kompas Gramedia. Aku bergabung sebagai Wartawan pada pertengahan 2002. Kurang dari sebulan, aku sudah sangat menikmati pekerjaan baruku ini. Mobilitas yang tinggi, melakukan perjalanan dinas ke berbagai tempat di dalam dan di luar negeri, bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, dan menjadi yang pertama yang mengetahui serta mengabarkan sebuah peristiwa atau informasi adalah hal-hal yang menjadi dasar kenikmatanku.

Aku merasa seperti tidak bekerja dan hanya sekedar melakukan hal-hal yang aku sukai, dan dibayar untuk itu! Tidakkah itu sangat menyenangkan? Kesukaan itu juga yang mendorong aku untuk mengabaikan shift kerjaku. Teman-teman di Sonora Jakarta sudah biasa mendapatiku masuk pagi, tapi masih mengirimkan laporan di malam hari. Itu menjadi hal yang sangat biasa ketika aku ditugaskan untuk “ngepos” di Istana Presiden, untuk meliput dan memberitakan kegiatan, kebijakan Presiden serta aktivitas-aktivitas lain di seputar Istana.

Bahkan pernah seorang senior menuduhku cari muka dengan bertugas jauh melampaui jam kerja. Hehehehe. Beliau lupa jika wartawan mestinya tidak ada batasan waktu kerja. Wartawan harus tuntas dalam melakukan aktivitas jurnalistik, terlepas apakah jam bekerjanya sudah atau belum berakhir. Mestinya sih beliau berterima kasih karena orang-orang seperti aku meringankan pekerjaannya.

Antusiasme itu rasanya juga menjadi pertimbangan pimpinan untuk mempromosikan jabatanku dalam waktu yang relatif singkat. Seleksi yang dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi memberikan aku tanggung jawab yang lebih luas sebagai Wakil Redaktur Pelaksana, setingkat wakil kepala bagian/departemen. Kenaikan jabatan itu aku dapatkan di awal tahun 2006, hanya dalam waktu 1,5 tahun setelah aku diangkat sebagai karyawan tetap.

Tidak lama setelah itu, aku kembali berhasil lolos seleksi untuk menerima bea siswa Management Development Program dan menjalani pendidikan selama 1 tahun di salah satu sekolah bisnis yang terbaik di Indonesia, Prasetiya Mulya Business School, Jakarta. Pendidikan dengan ikatan dinas selama 3 tahun dengan materi berupa teori dan praktik magang di 2 perusahaan di 3 wilayah: Jakarta, Depok dan Surabaya tersebut memberikan aku kesempatan untuk menggali wawasan yang sangat luas menyangkut pengelolaan dan pengembangan bisnis menyangkut aspek Produksi, Pemasaran dan Penjualan, Pengembangan SDM dan Keuangan.

Selepas pendidikan, aku kembali mendapatkan mutasi dan promosi jabatan sebagai Head of Marketing & Sales Sonora Jakarta. Selain itu, aku juga dipercaya sebagai memimpin “Performance Management Team”, sebuah tim yang dibentuk khusus untuk merumuskan dan menetapkan standar pengelolaan bisnis di seluruh jaringan Radio Sonora di lebih dari 10 kota di Indonesia.

Aku hanya sempat berkarya selama 5 bulan dalam posisi itu, sebelum kembali menjalani mutasi dan mendapatkan kenaikan jabatan. Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang, aku berkesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru dan sangat menantang seluruh pengetahuan dan kemampuanku. Sejak Juni 2007 aku dipercaya untuk memimpin Radio Sonora sebagai Station Manager, setara General Manager yang membawahi seluruh 5 bagian yang ada: Program, Mechanical Engineering dan Technology Information, Marketing & Sales dan bagian Human Resources & General Affairs.

Radio Sonora Surabaya semula adalah Radio Salvatore yang diakuisisi Kompas Gramedia pada tahun 1997. Sejak itu hingga 2006, Radio Sonora Surabaya selalu mengalami kerugian setiap tahun dengan rata-rata kerugian lebih dari Rp 200 Juta. Nama Radio Sonora Surabaya-pun tidak muncul dalam daftar peringkat radio hasil survey Nielsen, yang artinya, pendengar Radio Sonora Surabaya jumlahnya terlalu sedikit. Dengan demikian, sudah kebayangkan jumlah dan hasil iklannya? Situasi tersebut benar-benar memunculkan tantangan yang relatif besar bagiku. Ibaratnya, baru saja turun gunung sudah harus mendapat ujian yang berat.

Puji Tuhan, atas berkat-Nya, aku berhasil mendorong teman-teman Sonora Surabaya untuk bekerja keras dan cerdas untuk menyikapi kondisi yang tidak menguntungkan tersebut. Hasilnya, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, Sonora Surabaya berhasil membukukan keuntungan operasional, yaitu di akhir tahun 2007. Sebuah hasil yang manis dari pembenahan semua aspek bisnis dalam kurun waktu Juni – Desember 2007.

Atas kinerjaku di tahun 2007 serta dipandang perlunya tanggung jawab dan kewenangan yang lebih luas untukku, Rapat Umum Pemegang Saham Tahun 2008 PT Radio Salvatore (Sonora FM) Surabaya memutuskan untuk menempatkan aku dalam jajaran direksi perusahaan. Dalam usia 31 tahun aku berhasil mencapai posisi Direktur di sebuah perusahaan di lingkungan Kompas Gramedia, korporasi media terbesar di Indonesia. Sebuah posisi yang bahkan tidak pernah aku bayangkan dan aku kejar, namun kemudian dipercayakan kepadaku.

Semua itu berawal dari kecintaanku terhadap hal-hal yang aku lakukan, yang menjadi tugas dan tanggung jawabku.