Cuma Gunting Pita Doank..

Dalam sebuah obrolan singkat di media sosial profesional tentang jalan tol Surabaya-Kertosono yang baru beroperasi, seseorang berkomentar jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya sekedar meresmikan saja proyek itu, atau dalam bahasa yang digunakannya: “..cuma gunting pita doang..”. Dahi saya langsung berkerut, khususnya karena yang bersangkutan adalah seorang manajer top dengan gelar edukasi berderet di belakang namanya.

Masa iya, Presiden Jokowi hanya sekedar menggunting pita (meresmikan) saja? Tapi kok yang bilang adalah orang dengan posisi manajer top dan berpendidikan ya? Tentu saja saya tidak akan heran jika komentar itu dilontarkan oleh orang dengan pendidikan yang relatif rendah dan atau tidak mengikuti perkembangan pembangunan di Indonesia.

Penasaran dengan komentarnya, saya berusaha menggali informasi tentang proyek tol Surabaya – Kertosono itu yang mudah ditemukan di internet. Informasi yang saya dapatkan, CMIIW, proyek itu digagas sejak jaman Presiden Soeharto dan dimulai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Proyek sempat terhenti beberapa tahun sebelum kemudian dilanjutkan pada masa Presiden Jokowi dan diselesaikan akhir tahun 2017 baru lalu.

Berangkat dari informasi itu saja, saya sudah berpikiran bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara melanjutkan dan menyelesaikan dengan sekedar meresmikan saja. Saya lalu menanyakan kepada yang bersangkutan, data dan fakta apa yang mendasari pernyataannya bahwa Presiden saat ini hanya sekedar meresmikan saja.

Saya membayangkan sebagai seorang profesional yang terdidik dan menempati posisi top management, beliau tentu sudah terbiasa berbicara berdasarkan data dan fakta. Jauh dari bayangan saya, bahwa beliau ternyata tidak memberikan data dan fakta yang mendukung klaimnya dan kemudian malah cenderung menyerang personal saya dengan lontaran tudingan bahwa saya mengkultuskan (memuja, menyembah, memuliakan) seseorang, dalam hal ini Presiden Jokowi.

Wow! Melihat caranya menjawab dan berkomunikasi, saya langsung bertanya-tanya bagaimana ia bisa mendapatkan gelar edukasi berderet dan menempati posisi yang tinggi di perusahaan dimana dia berada? Dengan menyuap ya?? Hehehe! Jelas dengan profil yang bersangkutan, saya mengharapkan jawaban yang relevan dengan pertanyaan dan sudah tentu obyektif.

Saya maklum jika yang bersangkutan sebenarnya sadar bahwa dia hanya komentar asal-asalan dan tidak memiliki data dan fakta yang mendukung pernyataannya bahwa Presiden Jokowi hanya sekedar meresmikan saja. Namun, saya merasa ia tidak cukup bertanggung jawab dengan pernyataannya di media sosial profesional dengan para profesional sebagai audiens-nya. Di sisi lain, ia dengan jelas menunjukkan gelar edukasi, jabatannya serta nama perusahaannya dalam profilnya.

IMHO, tanpa disadari, dia telah mempermalukan diri sendiri dan nama perusahaannya.

Saya kemudian mengingatkan bahwa seorang manajer, dan yang sungguh berkualifikasi sebagai manajer, mestinya menyadari jika setiap perubahan dan penundaan suatu proyek akan membutuhkan sebuah perencanaan baru. Kita harus harus memikirkan dan merencanakan kembali proyek itu, bagaimana melanjutkannya, kapan, anggarannya, timeline-nya, dan lain-lain.

Kita tidak bisa sekedar bilang: “Yuk! Kita lanjutkan lagi.” untuk sebuah proyek yang sempat terhenti dalam waktu yang relatif lama dan sudah mundur dari jadwal. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk melanjutkan proyek itu. Bisa jadi pelaksananya tidak bisa meneruskan lagi dan harus mencari pelaksana baru dengan biaya dan waktu pelaksanaan yang berbeda. Bisa jadi kondisi di lapangan sudah jauh berbeda dan oleh karenanya membutuhkan penyesuaian. Banyak hal.

Oleh karena itu, satu sisi kita harus tetap memberikan apresiasi kepada siapapun yang telah memberikan gagasan dan mengawali proyek tol Surabaya-Kertosono. Namun, mengatakan bahwa Presiden Jokowi hanya sekedar meresmikan saja, tanpa memahami proses yang telah berlangsung di balik proyek itu, jelas merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab, sekaligus tidak profesional.

Seorang profesional rasanya juga harus bisa mengakui dan menghargai kinerja dan pencapaian orang lain, sebagaimana ia sendiri juga ingin dihargai dalam profesinya.

4 x 6 = Tergantung..

Beberapa hari terakhir ini lumayan santer diperbincangkan di media sosial soal pelajaran Matematika Kelas 2 SD. Sekilas yang aku tangkap adalah kakak si Siswa menekankan pada hasil: “Paling penting hasilnya sama saja toh?”, sementara Sang Guru menekankan pada proses: “Kalau prosesnya salah, berapapun hasilnya adalah salah.”

Aku jadi teringat seorang pemimpin perusahaan yang punya pandangan: “Gue engga mau tau apa yang sudah kalian lakukan, yang penting hasilnya gimana?”. Fine – fine saja jika beliau berpandangan seperti itu. Namanya juga pemimpin, beliau berhak menentukan bagaimana jalannya perusahaan, meski itu berarti jalan di tempat atau berputar – putar tak tentu arah tujuannya.

Dalam pengelolaan bisnis, proses menjadi hal yang penting meski hasil selalu menjadi tolak ukur yang utama. Kita harus tahu persis apa – apa saja yang sudah dilakukan ketika kita mendapatkan sebuah hasil. Tidak saja ketika kita mengalami kerugian atau penurunan keuntungan, bahkan juga ketika kita meraih keuntungan atau peningkatan keuntungan.

Jika kita tidak tahu kenapa kita meraih keberhasilan, bagaimana kita bisa mengulangi keberhasilan itu? Demikian pula sebaliknya. Jika kita gagal dan tidak tahu kenapa, maka besar kemungkinan pula kita akan selalu mengulangi kegagalan itu.

Dengan demikian pemahaman dan penerapan sebuah proses bertujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi untuk mendapatkan nilai tertentu yang kita harapkan sekaligus meminimalisir pemborosan waktu, tenaga, pikiran dan dana. Potensi pemborosan itu akan terjadi jika kita tidak mengetahui dengan pasti apakah hal – hal yang kita lakukan akan membantu kita mencapai tujuan atau target.

Selain itu, penerapan sebuah proses atau mekanisme tertentu juga dapat menjaga kelangsungan hidup sebuah perusahaan. Keberlangsungsan sebuah perusahaan tidak lagi bergantung pada keberadaan seseorang atau beberapa orang di dalamnya. Jika sebuah perusahaan maju dan berkembang di bawah kepemimpinan si A, maka ketika A digantikan oleh si B, perusahaan akan tetap dan bahkan semakin maju dan berkembang.

Oleh karena siapapun yang meneruskan kepemimpinan atas sebuah perusahaan tinggal meneruskan dan memperbaiki proses yang sudah berjalan. Tentu saja dengan catatan tidak ada faktor eksternal yang menuntut perubahan proses secara fundamental agar si perusahaan dapat terus maju dan berkembang.

Namun, hal yang harus diingat adalah sebuah proses haruslah dinamis, dalam artian, kembali demi efektivitas dan efisiensi, sebuah proses akan relatif cepat menjadi basi untuk kemudian harus diubah. Proses surat menyurat dengan kertas, sebagai satu contoh yang sederhana, menjadi sebuah pemborosan dengan adanya surat elektronik.

Selain itu, sebuah proses menjadi hal yang sangat penting ketika apa – apa yang harus dilakukan sungguh berorientasi pada pencapaian target. Untuk mengetahui sesuatu hal itu penting dilakukan hanya membutuhkan satu tolak ukur, jika ia tidak dilakukan maka pencapaian tujuan akan terhambat atau bahkan gagal. Sebaliknya, sebuah hal menjadi tidak penting ketika keberadaannya tidak berpengaruh pada pencapaian tujuan. Singkatnya, jika dilakukan atau tidak tidak lakukan hasilnya sama saja.

Lalu, sebaiknya tetap dilakukan atau tidak? Jika kita berorientasi pada efektivitas dan efisiensi, tentunya kita hanya akan melakukan hal-hal yang mendorong dan memastikan pencapaian tujuan.

Lalu yang benar 4 x 6 atau 6 x 4? Tergantung apakah kita peduli pada proses atau yang penting hasilnya sama saja maka apapun prosesnya tidak jadi masalah. Jujur sajalah, banyak yang tidak tahu jika 4 x 6 tidak sama dengan 6 x 4 bukan?